Woensdag, 22 Mei 2013

makalah bisnis tanaman buncis


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Buncis merupakan salah satu jenis sayuran yang ada di negeri ini.  Dan proses penanamannya juga tak begitu sulit maka tak jarang banyak petani yang menanam buncis saat ini, dan keuntungannya pun tak sedikit juga yang di dapatkan, selain itu para konsumen hampir sebagian orang merupakan penggila buncis yang di konsumsi menjadi makanan lalapan atau sayur sop, tumis, santan dan lain-lain.  Dan sangat banyak pembeli atau konsumen yang membeli buncis.  Berdasarkan hal ini kami tertarik untuk menjadikan usahatani buncis sebagai laporan mata kuliah Manajemen Agribisnis.
Lokasi usahatani buncis yang kami pilih terletak di daerah Wonoharjo.  Usaha ini berdiri sejak tahun 2008 sudah lima tahun berjalan hingga saat ini. Usaha ini didirikan oleh bapak Wiyono Raharjo yang berusia 43 tahun seorang buruh tani dan memiliki dua orang anak dan satu orang istri dengan nomor telepon 085769410446.  Lokasi lahannya pun terletak tak jauh dari rumah bapak Wiyono dengan luas lahan 250 m2.  Bapak Wiyono dibantu dengan tiga orang pekerja dengan tugas menggarap lahan, memasang lanjaran, memupuk, dan mengiangi atau gulutan, dengan upah perhari sampai Rp. 50.000/orang. 
Bapak Wiyono mendapatkan benih dengan membeli dari kios, alat-alat yang diperlukan sangat mudah di dapatkan di pasaran.  Bapak Wiyono sudah ahli dalam bertani buncis di daerahnya, dalam menanggulangi hama bapak Wiyono dapat melakukannya dengan cara menyemprotkan insektisida yang berukuran 1 mili ke tanaman buncis dan contoh hama buncis yang sering mengganggu tanaman ini seperti lalat buah, lalat daun, dan ulat.  Dari awal penanaman tanaman buncis dapat di panen pada umur 45 hari. Dalam 1 tahun bapak Wiyono dapat 4 kali panen per tahun. Dalam setiap panen hasil yang di peroleh bapak Wiyono berkisar 5 ton pada luas lahan 250 m2.  Setiap hasil panennya dijual di pasaran atau tengkulak, pada setiap panen para konsumen tidak pernah telat datang ke rumah bapak Wiyono untuk membeli hasil panen buncis yang diperoleh bapak Wiyono dari bertani buncis.


1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa saja alat dan bahan yang digunakan dalam bertani buncis ?
2.      Bagaimana proses atau cara menanam buncis ?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan penulisan yang menjadi acuan penulis untuk membuat laporan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan.
2.      Mengetahui bagaimana proses penanaman buncis.
3.      Mengetahui cara menanggulangi tanaman buncis yang terkena hama.

1.4  Manfaat
1.      Mahasiswa mampu mengetahui proses input, farm (produksi), sampai output tanaman buncis.
2.      Mahasiswa mampu mempelajari stuktur dalam penanaman buncis.
3.      Mahasiswa mampu mengetahui penanggulangan atau pencegahan hama dalam tanaman buncis.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tanaman Buncis
Buncis (Phaseolus vulgaris) merupakan sayuran yang bergizi tinggi dan cukup digemari. Tanaman buncis dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kacang-kacangan (beans), yang berumur pendek dan berbentuk semak atau perdu. Berdasarkan tipe  pertumbuhannya, ada dua macam tanaman buncis yaitu buncis tipe tegak dan tipe merambat. Tanaman tipe merambat banyak dikonsumsi dalam bentuk polong buncisyang masih muda, sedangkan untuk tipe tegak umumnya yang dikonsumsi adalah bijinya. Tanaman buncis tipe tegak biasa dikenal dengan “kacang jogo” yang berwarna merah, hitam, kuning, cokelat tergantung dari varietasnya. Tanaman buncis bukan tanaman asli Indonesia tetapi merupakan hasil introduksi (Rukmana, 1995). Berdasarkan berbagai informasi tanaman buncis berasal dari benua Amerika tepatnya Amerika Utara dan Amerika Selatan. Secara lebih spesifik diperoleh informasi, bahwa kacang buncis tipe tegak (kacang jogo) merupakan  tanaman asli di lembah Tahuacan (Meksiko). Penyebaran ke benua Eropa berlangsung sejak abad ke-16 oleh orang-orang Spanyol dan Portugis. Daerah pusat penyebarannya mula-mula adalah Inggris (tahun 1594), kemudian menyebar kenegara-negara lainnya di kawasan Eropa, Afrika, sampai ke Asia. Di Amerika daerah penyebaran tanaman buncis terdapat di New York (tahun 1836), kemudian meluas  ke Wisconsin, Maryland, dan Florida. Tanaman ini mulai dibudidayakan secara  komersil sejak tahun 1968 dan menempati urutan ke tujuh diantara sayuran yang dipasarkan di Amerika pada tahun tersebut. Adapun “kapan” masuknya tanaman  buncis ke Indonesia belum diperoleh informasi yang jelas, tetapi daerah penanaman  buncis pertama kali adalah di daerah Kotabatu (Bogor), kemudian menyebar kedaerah-daerah sentra sayuran di Pulau Jawa.
Buncis tumbuh pada ketinggian 1000 – 1500 M dpl, jenis tanah andosol dan regosol serta Ph tanah 5,5 – 6. Tanaman buncis ini menghendaki iklim dan musim peralihan, jadi tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila di tanam pada akhir musim hujan atau menjelang musim kemarau, di samping itu buncis juga menghendaki cahaya matahari yang langsung (cukup terbuka).


BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat
Usahatani sayuran buncis dilaksanakan di daerah Wonoharjo pada tanggal 2 April 2013 pada pukul 10.00 WIB.
3.2 Prosedur Pelaksanaan
Sebelum melakukan survei lapang mahasiswa terlebih dahulu membuat kuisioner.  Kemudian mahasiswa menemui narasumber atau responden untuk mewawancarai responden dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai proses penanaman buncis di daerah Wonoharjo.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Wilayah
Tanaman buncis yang di amati terletak di desa Wonoharjo, Kecamatan Sumberejo,Kabupaten Tanggamus. Dan wilayahnya cukup stategis untuk menanam buncis karena letak nya tepat di kaki gunung Tanggamus dengan ketinggian 1250 M dari permukaan air laut. Dan juga jenis tanahnya pun sesuai dengan jenis tanah yan di inginkan pada tanaman buncis yaitu jenis tanah andosol dan regosol.
4.2 Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam usahatani tanaman buncis ini dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2.
Tabel. 1 Bahan Bertani Buncis
No
Bahan
Alat
1
Benih buncis
Cangkul
2
Pupuk Urea
Sprayer
3
Pupuk Bass
Kored
4
Pestisida/insektisida
Golok
5
Tali plastik
Keranjang
6
Air
Karung (50kg)

4.3 Proses Penanaman Buncis
1.      Pembibitan
Buncis di perbanyak secara generatif (biji) sedangkan kebutuhan benih nya adalah 20 Kg per  ½  Ha
2.      Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan traktor maupun alat tradisional yaitu cangkul lalu diberi pupuk kandang 7,510 Ton per ½  Ha kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 100 – 120 Cm.
3.      Penanaman
Benih di tanam pada lubang-lubang tanam yang di buat dengan cara di tugal dengan jarak tanam 20 x 50 Cm, pada tiap lubang diisi dengan 2 – 3 biji, setelah 7 hari maka benih buncis akan mulai berkecambah.
4.      Pemupukan
Pemupukan di lakukan dengan pemberian pupuk dasar yaitu pupuk kandang 7,5 – 10 Ton per ½  Ha, kemudian pupuk buatan Urea 25 Kg per ½ Ha,TSP 100 Kg per ½ Ha dan KCL 50 kg per ½ Ha.
5.      Pengajiran
Pengajiran dilakukan apabila tanaman telah mulai berkecambah dan mencapai ketinggian 15 Cm, biasanya setiap 4 batang ajir tersebut diikat dengan tali menjadi satu sehingga terbentuk sebuah piramida.
6.      Penyiangan
Tujuan penyiangan adalah membasmi tumbuhan liar yang akan menghambat pertumbuhan tanaman. Penyiangan dilakukan bila tanaman telah berumur 2 dan 5 minggu setelah tanam. Penyiangan yang terlampau sering akan menahan pertumbuhan akar sehingga pertumbuhan tanaman juga akan terganggu.
7.      Penyiraman
Penyiraman dilakukan terutama pada stadium muda karena pada masa itu tanaman buncis sangat memerlukan air, untuk selanjutnya penyiraman cukup dilakukan 2 hari sekali.
8.      Pengendalian OPT
Hama pengganggu tanaman yang biasanya menyerang tanaman buncis adalah hama Agrotis Ipsilon Huff, Tarsonemus Sp, Agromyza Phaseoli dan Prodenia Sp. Cara pengendaliannya dengan menggunakan Tamaron 200 LC, Dipretex 25 SP, Bayrusil 250 EC dan Takuthion 500 EC.
4.4 Proses Panen Buncis
Panen dilakukan setelah tanaman berumur 60 hari. Dan polong memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:
Ø  Warna polong agak muda dan suram.
Ø  Permukaan kulitnya agak kasar.
Ø  Biji dalam polong belum menonjol.
Ø  Bila polong dipatahkan akan menimbulkan bunyi letup

Cara panen yang dilakukan biasanya dengan cara dipetik dengan tangan.Penggunaan alat seperti pisau atau benda tajam yang lain sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan luka pada polongnya. Periode panen pelaksanaan panennya dapat dilakukan secara bertahap, yaitu setiap 2-3 hari sekali. Pemetikan dihentikan pada saat tanaman berumur lebih dari 80 hari, atau kira - kira sejumlah 7 kali panen.

4.5  Proses Pemasaran Buncis
Pemasaran, perdagangan dan standarisasi seperti halnya pada komoditas sayuran lainnya, kegiatan pemasaran buncis bertujuan untuk memindahkan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen. Pada umumnya kegiatan produksi berlangsung di daerah pedesaan, sementara daerah konsumen terletak di perkotaan. Hal ini mengakibatkan kontribusi dari lembaga-lembaga pemasaran cukup besar. Hampir seluruh sektor pemasaran buncis ditangani oleh pihak swasta dan intervensi pemerintah relatif minimal, khusus terbatas pada penyediaan infrastruktur. Oleh karena itu, pasar buncis seringkali dianggap beroperasi berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan. Pasar dapat diartikan sebagai tempat terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli. Pengertian pasar di sini tidak selalu pasar tersebut berwujud bangunan fisik, tetapi cukup dicirikan dengan adanya kontak antara penjual dan pembeli. Jenis pasar buncis mengikuti pasar sayuran pada umumnya yang ada dapat dibedakan menjadi:
 a) pasar pengumpul,
 b) pasar grosir/pasar besar,
c) pasar eceran, dan
d) ada juga yang langsung membeli ke petani
Umumnya transaksi antara pedagang pengumpul dan petani dilakukan di kebun. Pasar besar/grosir biasanya terletak di berbagai daerah konsumsi di kota-kota besar, para pembeli di pasar grosir tersebut sebagian besar terdiri dari para pedagang pengecer. Pasar pengecer banyak terdapat di daerah konsumsi baik di kota besar maupun kota kecil. Dalam perkembangannya, pasar-pasar pengecer di kota-kota besar dapat dibedakan menjadi pasar eceran tradisional dan pasar eceran moderen (super market).

4.6  Analisis Kelayakan Usaha
     Analisis usaha terdiri dari menghitung biaya (cost) usaha, penerimaan (revenue) usaha, pendapatan (income) usaha, Menghitung kelayakan usaha.  Biaya usaha adalah seluruh pengeluaran dana (korbanan ekonomis) yang diperhitungkan untuk keperluan usaha. Biaya usaha terdiri dari biaya tetap (Fixed Cost : FC)  yaitu biaya yang dikeluarkan tehadap penggunaan faktor produksi yang tetap dimana besar kecilnya biaya ini tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya output yang dihasilkan.  Biaya tidak tetap (Variabel cost : VC)  yaitu merupakan biaya yang dikeluarkan sebagai balas jasa atas pemakaian variabel faktor, yang besar kecilnya dipengaruhi langsung oleh besar kecilnya output.  Biaya Total (Total cost : TC) yaitu merupakan jumlah keseluruhan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap.
     Rincian biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi buncis dapat dilihat pada tabel 2.
No
Jenis Bahan
Jumlah Bahan
Harga
Nilai
1
Benih buncis
6 kg
Rp. 75.000
Rp. 450.000
2
Pupuk Urea
100 kg
Rp. 1.900
Rp. 190.000
3
Pupuk Bass
50 kg
Rp. 7.600
Rp. 380.000
4
Pestisida/insektisida
1 liter
Rp. 50.000
Rp. 50.000
5
Tali plastik
2 rol
Rp. 40.000
RP. 80.000
6
Air
3 batang
Rp. 15.000
Rp. 45.000
                                                                                                            Total = Rp. 1.195.000
Tabel.3 Alat yang di gunakan dalam Bertani Buncis
No
Jenis Alat
Usia pakai
Jumlah
Harga (Rp)
Nilai (Rp)
1
Cangkul
3 th
3
Rp. 75.000
Rp. 225.000
2
Sprayer
5 th
2
Rp. 250.000
Rp. 500.000
3
Kored
2 th
3
Rp. 15.000
Rp. 45.000
4
Golok
3 th
2
Rp. 25.000
Rp. 50.000
5
Keranjang
2 th
5
Rp. 30.000
Rp. 150.000
6
Karung (50kg)
1 th
100
Rp. 7.500
Rp. 750.000
                                                                                                            Total = Rp. 1.720.000




Tabel.4 Tenaga Kerja
No
Jenis Kegiatan
Jumlah (HOK)
Nilai (Rp)
Upah (Rp)
1
Persiapan Lahan 3 Tk (14 jam)
0,7
Rp. 21.000
Rp. 63.000
2
Pasang Ajir 2 Tk (2 jam)
0,14
Rp. 4.200
Rp. 84.000
3
Pemupukan 3 Tk (2 jam)
0,14
Rp. 4.200
Rp. 12.600
4
Ngiang dan Gulutan 3 Tk (6jam)
0,3
Rp. 9.000
Rp. 27.000
5
Panen 3 Tk (14 jam)
0,7
Rp. 21.000
Rp. 63.000
                                                                                                            Total = Rp. 249.600
Tabel.5 Penyusutan
No.
Jenis Alat
Jumlah
Usia pakai
Nb
Ns
Dp/periode
Dp/periode
1
Cangkul
3
3 th
Rp. 75.000
0
Rp. 25.000
Rp. 6.250
2
Sprayer
2
5 th
Rp. 250.000
Rp 50.000
Rp. 40.000
Rp. 10.000
3
Kored
3
2 th
Rp. 15.000
0
Rp. 7.500
Rp. 1.875
4
Golok
2
3 th
Rp. 25.000
0
Rp. 8.333
Rp. 2.083
5
Keranjang
5
2 th
Rp. 30.000
0
Rp. 15.000
Rp. 3.750
6
Karung (50kg)
100
1 th
Rp. 7.500
0
Rp. 7.500
Rp. 1.875
                                                                                                            Total = Rp. 25. 833
TC = TFC + TVC
      = TFC + (Saprodi + Tenaga Kerja)
      = Rp. 25.833 + (Rp. 1.195.000 + Rp. 249.600)
      = Rp. 25.833 + Rp. 1.444.600
      = Rp. 1.470.433,-/periode
TR = P x Q
      = Rp. 3.500/kg x Rp. 5.000 kg
      = Rp. 17.500.000,-

 = TR – TC
   = Rp. 17.500.000 – Rp. 1.470.433
   = Rp. 16.055.400,-/periode
             =
             = 11,90/periode
 
Artinya setiap 1 rupiah yang dikeluarkan dalam mengahasilkan output sebesar 11,90/periode
 
              =
            = 10,91/periode
Artinya ratio sebesar 10,91 artinya setiap satu rupiah yang di investasikan akan memberikan keuntungan sebesar 10,91/periode









BAB V
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Pada tanaman buncis sangat perlu di perhatikan pemeliharaannya agar dapat di peroleh hasil yang memuaskan dan menguntungkan seperti halnya yang telah kita ketahui.
B.   Saran
Dalam usaha buncis ini sudah layak jadi akan lebih baik jika lebih diperhaikan pola penanaman nya. Dan juga pada pemasaran buncis lebih menekankan pada harga yang ekonomis bagi masyarakat. Penggunaan teknologi pun harus diperhatikan.

















LAMPIRAN



                  

                   



DAFTAR PUSTAKA
komunikasi langsung dengan petani